Gunung Trikora atau Puncak Trikora adalah salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang berada di Pegunungan Jayawijaya, Papua Pegunungan. Dengan ketinggian sekitar 4.750 mdpl, Trikora dikenal sebagai gunung ekspedisi non-teknis tertinggi di Indonesia yang masih dapat didaki tanpa peralatan panjat es atau tali teknis khusus, berbeda dengan Puncak Jaya (Carstensz Pyramid).
Gunung ini menawarkan lanskap khas pegunungan tinggi Papua: padang rumput alpin luas, danau glasial, rawa alpine, kabut tebal, serta suhu ekstrem. Meski jalurnya tidak teknis secara panjat tebing, Trikora tetap diklasifikasikan sebagai Grade V karena durasi ekspedisi, ketinggian ekstrem, risiko cuaca, serta lokasi yang sangat terpencil.
Pendakian Gunung Trikora bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ekspedisi lintas budaya dan alam liar Papua.
Ketinggian: ± 4.750 mdpl
Lokasi: Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan
Koordinat: ± 4.083° LS, 138.733° BT
Pegunungan: Pegunungan Jayawijaya
Status Kawasan: Kawasan Konservasi Pegunungan
Grading Pendakian: Grade V – Ekspedisi/Ekstrem
Durasi Pendakian: 5-8 hari
Jenis Medan: Padang alpin, rawa, bebatuan, punggungan terbuka
Basecamp Umum: Lembah Baliem/Wamena
Sinyal: Sangat terbatas/tidak ada
Gunung Trikora memiliki keunikan yang sangat berbeda dari gunung-gunung di Indonesia bagian barat:
Trikora sering menjadi pilihan ideal bagi pendaki yang ingin merasakan sensasi gunung tinggi Himalaya versi Indonesia, tanpa panjat teknis.
Nama Trikora berasal dari singkatan Tri Komando Rakyat, yang dicanangkan Presiden Soekarno pada tahun 1961 dalam upaya integrasi Papua ke Indonesia. Nama ini kemudian digunakan untuk menamai puncak gunung sebagai simbol nasionalisme.
Dalam catatan kolonial Belanda, Gunung Trikora pernah dikenal sebagai Wilhelmina Top, sebelum akhirnya berganti nama setelah integrasi Papua.
Bagi masyarakat adat Dani dan suku-suku di Lembah Baliem, gunung-gunung tinggi termasuk Trikora dianggap sebagai wilayah sakral, tempat bersemayamnya roh leluhur dan penjaga alam.
Pendakian Gunung Trikora umumnya dimulai dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya.
Sebagian ekspedisi memulai pendakian langsung dari sekitar Danau Habema, yang dapat ditempuh dengan kendaraan off-road dari Wamena.
Akses menuju Papua Pegunungan membutuhkan perencanaan matang karena keterbatasan transportasi dan logistik.
Pendakian Gunung Trikora membutuhkan perizinan berikut:
Pendaki sangat disarankan menggunakan guide lokal yang memahami medan dan adat setempat.
Ini adalah jalur paling umum dan relatif “cepat” menuju puncak Trikora.
Karakteristik jalur:
Durasi: 3–5 hari PP
Kelebihan: Jalur jelas dan tidak teknis
Kekurangan: Sangat terbuka terhadap cuaca buruk
Gunung Trikora dikategorikan sangat sulit (Grade V) dengan karakter kesulitan sebagai berikut:
| Faktor | Tingkat |
|---|---|
| Ketinggian | ★★★★★ |
| Medan | ★★★★☆ |
| Cuaca | ★★★★★ |
| Navigasi | ★★★★☆ |
| Logistik | ★★★★☆ |
| Akses | ★★★★☆ |
Kesulitan utama Trikora bukan pada teknis jalur, tetapi pada ketinggian ekstrem, cuaca, dan risiko Acute Mountain Sickness (AMS).
Tidak ada hutan lebat atau satwa besar seperti di Sumatra, tetapi kondisi alam sangat ekstrem.
Musim terbaik mendaki Gunung Trikora adalah:
Mei – September
Ciri musim ideal:
Musim hujan menyebabkan:
Risiko utama pendakian Gunung Trikora:
Tips keselamatan:
Wilayah Gunung Trikora berada di tanah adat suku Dani dan kerabatnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan:
Interaksi dengan masyarakat lokal adalah bagian penting dari ekspedisi Trikora.
| Komponen | Estimasi |
|---|---|
| Tiket pesawat Jayapura–Wamena PP | Rp 2.000.000 – 4.000.000 |
| Transport lokal | Rp 500.000 – 1.000.000 |
| Guide & porter lokal | Rp 500.000 – 800.000 / hari |
| Logistik | Rp 1.000.000 – 1.500.000 |
| Perizinan & adat | Rp 300.000 – 700.000 |
Total estimasi:
Rp 7.000.000 – 12.000.000 / orang
Hari 1:
Wamena – Danau Habema – Camp 1
Hari 2:
Camp 1 – Camp 2 (padang alpine & rawa)
Hari 3:
Camp 2 – Summit Attack – Camp 2
Hari 4:
Camp 2 – Camp 1
Hari 5:
Camp 1 – Danau Habema – Wamena
Itinerary dapat berubah sesuai cuaca dan kondisi tim.
Tidak, jalurnya non-teknis.
Tidak. Ketinggian dan cuaca sangat ekstrem.
Ya, sangat tinggi karena start sudah di atas 3.000 mdpl.
Tidak tersedia di jalur pendakian.
Sangat disarankan.