Mengingat keragaman karakteristik gunung di Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA), diperlukan adanya sistem klasifikasi atau grading jalur pendakian yang mengelompokkan tingkat kesulitan dan risiko pendakian berdasarkan sejumlah variabel, seperti tingkat risiko, jarak tempuh, elevasi, keterjalan, kondisi cuaca, potensi bahaya, hingga akses dan skenario evakuasi. Klasifikasi ini tidak hanya penting bagi pengelola dalam merancang SOP yang sesuai, tetapi juga menjadi acuan bagi calon pendaki untuk menilai kesiapan diri sebelum melakukan aktivitas pendakian.
Saat ini, belum tersedia acuan nasional yang baku dalam pengelompokan tingkat kesulitan jalur pendakian di TN dan TWA. Sebagaimana arahan menteri, penyusunan sistem grading jalur pendakian gunung secara terstandar dan berbasis risiko menjadi langkah krusial. Grading jalur pendakian gunung yang lebih adaptif terhadap karakteristik masing-masing gunung dan mendukung prinsip zero accident dan zero waste memiliki kelas jalur pendakian berbasis risiko yang menjadi acuan nasional dalam pengelolaan pendakian gunung yang aman, tertib, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Metodologi Grading Pendakian Gunung Indonesia
Metode penilaian menggunakan pendekatan yang berbasis data dan analisis risiko dengan menggunakan karangka HIRARC (Hazard Identification, Risk Assesment, and Risk Control) yang terdiri dari lima tahap utama yaitu Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Risk Assessment Matrix, Tabel HIRARC, dan Pengendalian Risiko.
Untuk memudahkan penilaian jalur, dibuatkan sebuah perangkat aplikasi Indonesia Mountain Grade System, oleh FMI, yang memudahkan pengelola mengisi dan memberi skor. Dalam aplikasi tersebut dimuat panduan dan ukuran tiap indikator sehingga memperkecil potensi bias antar penilai. Hasil penilaian selanjutnya dibahas dan divalidasi dalam workshop bersama. Grading jalur dilakukan dengan menggunakan 6 dimensi penilaian utama.
| Dimensi Penilaian | Deskripsi |
| Morfologi Jalur | Kemiringan lereng, jenis medan (berbatu, berpasir, berlumpur), keberadaan tanjakan teknis atau scrambling. |
| Geografi dan Aksesibilitas | Lokasi jalur, ketinggian, panjang rute, ketersediaan lokasi camp, shelter dan sumber air. |
| Kondisi Iklim dan Cuaca | Curah hujan, suhu ekstrem, kabut, angin kencang, serta perubahan cuaca yang cepat. |
| Aspek Navigasi dan Orientasi | Tingkat kesulitan dalam membaca jalur, keterbatasan penanda, serta risiko tersesat. |
| Potensi Risiko dan Respon Darurat | Jarak dari titik evakuasi, sinyal komunikasi, kesiapsiagaan pengelola kawasan, serta akses SAR. |
| Aspek Biologi | Adanya keberadaan satwa liar dan vegetasi yang memiliki potensi risiko baik konflik dengan satwa ataupun reaksi tubuh dan kesehatan serta terkena dampak dari vegetasi beracun. |
Berdasarkan dimensi penilaian di atas, dilakukan skoring yang menunjukkan tingkat keseluruhan jalur pendakian sebagaimana bisa dilihat pada Tabel 2. Ada empat parameter biofisik yang dinilai, yaitu morfologi jalur, geografis, meteorologis, dan biologis. Variabel morfologi dinilai menurut sudut kelerengan, jenis medan, panjang jalur dan ketinggian di atas permukaan laut. Parameter geografis dinilai berdasarkan kemudahan aksesibilitas, kedekatan dengan paparan bahaya dan kejelasan jalur. Parameter meterologis diukur dari seberapa tinggi curah hujan, kecepatan angin dan suhu lingkungan. Sementara parameter biologis dinilai dari ada tidaknya jenis satwa dan tumbuhan yang “berbahaya”.
| Parameter | Kriteria | Kategori | Skor |
| Morfologi Jalur | Kemiringan Lereng | < 15° | 1 |
| 15-30° | 2 | ||
| > 30° | 3 | ||
| Jenis Medan | Tanah | 1 | |
| Pasir | 2 | ||
| Batu | 3 | ||
| Panjang Jalur | < 5 km | 1 | |
| 5-10 km | 2 | ||
| > 10 km | 3 | ||
| Ketinggian (elevasi) | < 2000 mdpl | 1 | |
| 2000 – 3000 mdpl | 2 | ||
| > 3000 mdpl | 3 | ||
| Geografis | Aksesibilitas | < 1 jam | 1 |
| 1-3 jam | 2 | ||
| > 3 jam | 3 | ||
| Paparan Bahaya Alam | Tidak Ada | 1 | |
| Ringan | 2 | ||
| Signifikan | 3 | ||
| Navigasi Jalur | Jelas | 1 | |
| Samar | 2 | ||
| Tidak Jelas | 3 | ||
| Meteorologis | Curah Hujan | < 50 mm/bulan | 1 |
| 50-150 mm/bulan | 2 | ||
| > 150 mm/bulan | 3 | ||
| Suhu Rata-rata | > 20°C | 1 | |
| 10-20°C | 2 | ||
| <10°C | 3 | ||
| Angin dan Kabut | Ringan | 1 | |
| Sedang | 2 | ||
| Ekstrem | 3 | ||
| Biologis | Satwa Liar | Satwa kecil, burung | 1 |
| Satwa berkukuran sedang jarang ditemui | 2 | ||
| Predator besar atau satwa sangat berbahaya | 3 | ||
| Vegetasi Beracun | Tidak ada vegetasi beracun signifikan | 1 | |
| Vegetasi dengan iritasi ringan | 2 | ||
| Vegetasi sangat beracun dan mematikan | 3 |
Indonesia Mountain Grade System (IMGS) menggunakan 12 komponen penilaian yang dikelompokkan dalam 4 faktor utama seperti Tabel 2 diatas yang memiliki rentang skor 1-3 untuk kemudian dijumlah dengan hasil maksimal 36 poin. Berdasarkan total skor penilaian dari berbagai indikator tersebut diklasifikasikan ke dalam 5 tingkat kesulitan yang disebut dengan Grade sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3.
| Grade | Kategori | Total Skor | Parameter | Deskripsi Umum |
| Grade I | Sangat Mudah | 12-15 | Morfologi: lereng < 15°, medan tanah padat, jalur < 5km, ketinggian < 2000 mdpl | 1. Jalur buatan atau alami sudah terbentuk jelas, sebagian besar dikelola untuk kemudahan berjalan. 2. Dapat diselesaikan dalam satu hari atau kurang tanpa bermalam 3. Tidak memerlukan alat bantu berjalan. Risiko mudah dihindari dan evakuasi cepat. Cocok untuk pengunjung umum/pendaki pemula |
| Geografi: akses mudah, tanpa bahaya alam, navigasi jelas | ||||
| Cuaca: hujan jarang, suhu > 20°C, angin lemah | ||||
| Biologi: tidak ada satwa berbahaya, hanya satwa kecil tidak berbahaya burung serangga biasa, tidak ada vegetasi beracun signifikan | ||||
| Risiko HIRA: rendah (1-3) | ||||
| Grade II | Mudah | 16-20 | Morfologi: lerang 15°-25°, medan campuran jalur 5-8km, ketinggian 1500-2500mdpl | 1. Jalur masih jelas dan dapat dilalui dalam satu hari, namun ada kemungkinan perjalanan di malam hari atau bermalam. 2. Alat bantu berjalan (tongkat) disarankan meski masih bisa tanpa itu. Kemampuan orientasi arah mata angin cukup perlu. 3. Risiko perlu antisipasi baik dan butuh skenario dan pendukung evakuasi. 4. Pengunjung umum/pendaki butuh persiapan yang baik. |
| Geografi: akses sedang, bahaya alam minimal, navigasi cukup jelas | ||||
| Cuaca: hujan sedang, suhu 15-20°C, kabut jarang | ||||
| Biologi: tidak ada berbahaya, burung serangga biasa, tidak ada vegetasi beracun signifikan | ||||
| Risiko HIRA: rendah-sedang (1-6) | ||||
| Grade III | Menengah | 21-24 | Morfologi: lereng 25°-35°, medan campuran, jalur 8-12km, ketinggian 2000-3000mdpl | 1. Jalur sebagian terbuka dan sebagian kecil tertutup namun masih bisa diikuti. 2. Memerlukan minimal satu kali bermalam dengan peralatan berkemah dan logistik standar. 3. Titik tertentu memerlukan pengunaan tangan (scrambling) untuk bergerak. 4. Pengunaan alat bantu berjalan (tongkat) sangat disarankan. 5. Navigasi dasar perlu dikuasai. 6. Butuh kesiapan darurat, rencana dan perangkat evakuasi yang baik. Cocok untuk pendaki terlatih namun pengunjung pemula dengan kondisi fisik bagus tetap butuh persiapan dan didampingi. |
| Geografi: akses terbatas, potensi bahaya alam sedang, navigasi menantang | ||||
| Cuaca: hujan cukup sering, suhu 10-15°C, kabut sedang | ||||
| Biologi: satwa berukuran sedang jarang ditemui seperti monyet, babi hutan, ular tidak berbisa, satwa yang umumnya menghindari manusia. Vegetasi dengan iritasi ringan, tumbuhan yang menyebabkan gatal, iritasi kulit ringan, atau alergi ringan | ||||
| Risiko HIRA: sedang (4-6) | ||||
| Grade IV | Berat | 25-29 | Morfologi: lereng >35°, medan berbatu/tebing, jalur >12km, ketinggian >3000mdpl | 1. Jalur cukup bervariasi, ada sebagian yang tertutup, curam, atau tidak terkelola. 2. Perjalanan multi-hari dengan fisik, logistik dan peralatan yang harus direncanakan baik. 3. Penggunaan alat bantu pergerakan sangat dibutuhkan, terkadang sebagian titik mulai dibutuhkan pengaman dasar (tali, webbing, ascender & descender dll). 4. Diperlukan kemampuan navitasi lanjutan, survival dan rescue dasar dipahami. Risiko dan mitigasi darurat dan evakuasi harus disiapkan matang. Hanya cocok untuk pendaki terlatih dan pengalaman beberapa kali di beberapa jalur Grade II sd III. |
| Geografi: akses terpencil, bahaya alam signifikan, navigasi sulit | ||||
| Cuaca: hujan cukup sering, suhu <10-15°C, kabut sedang | ||||
| Biologi: satwa berukuran sedang jarang ditemui seperti monyet, babi hutan, ular tidak berbisa, satwa yang umumnya menghindari manusia. Vegetasi dengan iritasi ringan, tumbuhan yang menyebabkan gatal, iritasi kulit ringan, atau alergi ringan | ||||
| Risiko HIRA: sedang hingga tinggi (4-7) | ||||
| Grade V | Sangat Berat | 30-36 | Morfologi: lereng sangat curam, medan ekstrem (tebing/es), jalur panjang, ketinggian > 3500mdpl | 1. Jalur sebagian besar sangat sulit, curam/terjal, dan banyak bagian belum terbuka. 2. Durasi perjalanan sangat panjang, memerlukan pembukaan jalur, terkadang kemampuan dasar panjat tebing hingga teknik penyeberangan. 3. Peralatan harus lengkap: kemah, logistik, komunikasi, pengaman tubuh dasar. 4. Diperlukan penguasaan penuh navigasi, teknik survival, dan kemampuan rescue lanjutan (di hutan gunung, ketinggian, air). 5. Evakuasi sulit/lama, hanya untuk pendaki bepengalaman/terlatih pada grade sebelumnya (II, III dan IV) ditambah dengan persiapan baik secara fisik mental dan pengalaman. |
| Geografi: sangat terpencil, bahaya alam tinggi (erupsi, longsor), navigasi sangat sulit | ||||
| Cuaca: kondisi ekstrem (badai, suhu beku, kabut tebal) | ||||
| Biologi: predator besar atau satwa sangat berbahaya, harimau, beruang, ular berbisa, gajah liar, atau satwa agresif lainnya. Vegetasi sangat beracun atau mematikan. Tumbuhan dengan racun kuat, dapat menyebabkan keracunan serius hingga kematian. | ||||
| Risiko HIRA: tinggi (7-9) |
Berdasarkan hasil skoring selanjutnya ditentukan grade masing-masing jalur pendakian berdasarkan skor total sebagaimana disajikan pada tabel 4. Prosedur penilaian dilakukan dengan proses dimana UPT memasukkan assessment di website https://imgs-fmi.netlify.app/ kemudian dilakukan verifikasi dalam rapat untuk kemudian hasilnya ditetapkan sebagai grade dari jalur pendakian gunung tersebut.
Hasil Grading Jalur Gunung di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam
Hasil validasi grading gunung di TN dan TWA menunjukkan bahwa jalur pendakian gunung di TN dan TWA sangat bervariasi. Sebanyak 78 jalur gunung yang diisi oleh UPT Balai Taman Nasional/KSDAE tersaji sebagaimana pada tabel 4. Penilaian berdasarkan kondisi jalur, sehingga dalam satu gunung bisa terdapat lebih dari satu jalur pendakian.
| No | Nama Gunung & Jalur | Status Kawasan | Grade |
| 1 | Gunung Leuser (Jalur Blangkejeren) | Taman Nasional Gunung Leuser | Grade V |
| 2 | Gunung Carstensz Pyramid (Jalur Lembah Kuning – Puncak) | Taman Nasional Lorentz | Grade V |
| 3 | Gunung Trikora (Jalur Habema – Puncak) | Taman Nasional Lorentz | Grade V |
| 4 | Gunung Argopuro (Jalur Baderan – Puncak – Bermi) | Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang | Grade IV |
| 5 | Gunung Bukit Raya (Jalur Rantau Malam – Puncak) | Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya | Grade IV |
| 6 | Gunung Bukit Raya (Jalur Tumbang Habangoi – Puncak) | Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya | Grade IV |
| 7 | Gunung Gandang Dewata (Jalur Paku – Puncak) | Taman Nasional Gadang Dewata | Grade IV |
| 8 | Gunung Gandang Dewata (Jalur Rante Pongko – Puncak) | Taman Nasional Gandang Dewata | Grade IV |
| 9 | Gunung Gandang Dewata (Jalur Edelweis – Puncak) | Taman Nasional Dewata | Grade IV |
| 10 | Gunung Semeru (Jalur Ranupane – Puncak) | Taman Nasional Bromo Tengger Semeru | Grade IV |
| 11 | Gunung Kerinci (Jalur Camping Ground Bukit Bonak Solok Selatan) | Taman Nasional Kerinci Seblat | Grade IV |
| 12 | Gunung Binaiya (Jalur Piliana – Puncak) | Taman Nasional Manusela | Grade IV |
| 13 | Gunung Binaiya (Jalur Huwaulu – Puncak) | Taman Nasional Manusela | Grade IV |
| 14 | Gunung Rinjani (Jalur Sembalun – Puncak – Torean) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade IV |
| 15 | Gunung Rinjani (Jalur Torean – Puncak) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade IV |
| 16 | Gunung Rinjani (Jalur Senaru – Puncak) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade IV |
| 17 | Gunung Rinjani (Jalur Timbaluh – Puncak Sangar) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade IV |
| 18 | Gunung Rinjani (Jalur Air Berik – Puncak) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade IV |
| 19 | Gunung Rinjani (Jalur Tetebatu – Puncak) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade IV |
| 20 | Gunung Ciremai (Jalur Sadarehe – Puncak) | Taman Nasional Gunung Ciremai | Grade III |
| 21 | Gunung Ciremai (Jalur Apuy – Puncak) | Taman Nasional Gunung Ciremai | Grade III |
| 22 | Gunung Ciremai (Jalur Palutungan – Puncak) | Taman Nasional Gunung Ciremai | Grade III |
| 23 | Gunung Ciremai (Jalur Linggasana – Puncak) | Taman Nasional Gunung Ciremai | Grade III |
| 24 | Gunung Ciremai (Jalur Linggarjati – Puncak) | Taman Nasional Gunung Ciremai | Grade III |
| 25 | Gunung Merapi (Jalur Sapuangin – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merapi | Grade III |
| 26 | Gunung Bawakaraeng (Jalur Lembanna – Puncak) | Taman Wisata Alam Malino | Grade III |
| 27 | Gunung Bawakaraeng (Jalur Lingkungan Bulubalea – Puncak) | Taman Wisata Alam Malino | Grade III |
| 28 | Gunung Bawakaraeng (Jalur Tasosso – Puncak) | Taman Wisata Alam Malino | Grade III |
| 29 | Gunung Tambora (Jalur Pancasila – Puncak) | Taman Nasional Gunung Tambora | Grade III |
| 30 | Gunung Tambora (Jalur Kawinda To’i – Puncak) | Taman Nasional Gunung Tambora | Grade III |
| 31 | Gunung Pangrango (Jalur Cibodas – Puncak) | Taman Nasional Gunung Gede | Grade III |
| 32 | Gunung Gede (Jalur Gunung Putri – Puncak) | Taman Nasional Gunung Gede Pangrango | Grade III |
| 33 | Gunung Gede (Jalur Selabintana – Puncak) | Taman Nasional Gunung Gede Pangrango | Grade III |
| 34 | Gunung Gede (Jalur Cibodas – Puncak) | Taman Nasional Gunung Gede Pangrango | Grade III |
| 35 | Gunung Halimun Salak (Jalur Cidahu – Puncak) | Taman Nasional Gunung Halimun | Grade III |
| 36 | Gunung Halimun Salak (Jalur Ajisaka – Puncak) | Taman Nasional Gunung Halimun Salak | Grade III |
| 37 | Gunung Halimun Salak (Jalur Cimalati – Puncak) | Taman Nasional Gunung Halimun Salak | Grade III |
| 38 | Gunung Halimun Salak (Jalur Pasir Reungit – Puncak) | Taman Nasional Gunung Halimun Salak | Grade III |
| 39 | Gunung Kelimutu (Jalur Pasir Reungit – Puncak) | Taman Nasional Kelimutu | Grade III |
| 40 | Gunung Merbabu (Jalur Cuntel – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merbabu | Grade III |
| 41 | Gunung Merbabu (Jalur Suwanting – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merbabu | Grade III |
| 42 | Gunung Merbabu (Jalur Selo – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merbabu | Grade III |
| 43 | Gunung Merbabu (Jalur Thekelan – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merbabu | Grade III |
| 44 | Gunung Merbabu (Jalur Wekas – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merbabu | Grade III |
| 45 | Gunung Nokilalaki (Jalur Tongoa) | Taman Nasional Lore Lindu | Grade III |
| 46 | Gunung Masurai (Jalur Sungai Lalang) | Taman Nasional Kerinci Seblat | Grade III |
| 47 | Gunung Tujuh Kerinci (Jalur Pelompek) | Taman Nasional Kerinci Seblat | Grade III |
| 48 | Gunung Kerinci (Jalur Kersik Tuo) | Taman Nasional Kerinci Seblat | Grade III |
| 49 | Gunung Singgalang (Jalur Pandai Sikek – Puncak) | Taman Wisata Alam Singgalang Tandikat | Grade III |
| 50 | Gunung Merapi (Jalur Aie Angek – Puncak) | Taman Wisata Alam Gunung Merapi | Grade III |
| 51 | Gunung Kelam (Jalur via ferrata Segmen 1) | Taman Wisata Alam Gunung Kelam | Grade III |
| 52 | Gunung Ambang (Jalur Liberia – Puncak) | Taman Wisata Alam Gunung Ambang | Grade II |
| 53 | Gunung Ijen (Jalur Paltuding – Puncak) | Taman Wisata Alam Kawah Ijen | Grade II |
| 54 | Gunung Kaba (Jalur Sumber Urip) | Taman Wisata Alam Bukit Kaba | Grade II |
| 55 | Bukit Kaba Puncak Bukit Hitam (Jalur Air Sempiang) | Taman Wisata Alam Bukit Kaba | Grade II |
| 56 | Gunung Merapi (Jalur Selo – Puncak) | Taman Nasional Gunung Merapi | Grade II |
| 57 | Gunung Bulubaria (Jalur Dusun Pattiro – Puncak) | Taman Wisata Alam Malino | Grade II |
| 58 | Danau Tanralili dan Lembah Lohe (Jalur Dusun Bawakaraeng) | Taman Wisata Alam Malino | Grade II |
| 59 | Gunung Tambora (Jalur Piong via Jeep) | Taman Nasional Gunung Tambora | Grade II |
| 60 | Gunung Tambora (Jalur Doro Ncanga via Jeep) | Taman Nasional Gunung Tambora | Grade II |
| 61 | Gunung Mambulilling Gandang Dewata | Taman Nasional Gandang Dewata | Grade II |
| 62 | Gunung Kelimutu (Jalur Wologai) | Taman Nasional Kelimutu | Grade II |
| 63 | Gunung Kelimutu (Jalur Niowula) | Taman Nasional Kelimutu | Grade II |
| 64 | Gunung Kelimutu (Jalur Toba) | Taman Nasional Kelimutu | Grade II |
| 65 | Gunung Papandayan (Jalan Kawah – Pondok Selada) | Taman Wisata Alam Gunung Papandayan | Grade II |
| 66 | Gunung Bulusaraung (Jalur Desa Tompobulu – Puncak) | Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung | Grade II |
| 67 | Gunung Batur (Jalur Bukit Selat – Puncak) | Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang | Grade II |
| 68 | Gunung Batur (Jalur Batu MonjolSerongga – Puncak) | Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang | Grade II |
| 69 | Gunung Batur (Jalur Tukad Gede/Toya Bungkah – Puncak) | Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang | Grade II |
| 70 | Gunung Batur (Jalur Purajati – Puncak) | Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang | Grade II |
| 71 | Gunung Maras (Jalur Dalil) | Taman Nasional Gunung Maras | Grade II |
| 72 | Gunung Maras (Jalur Muriyan) | Taman Nasional Gunung Maras | Grade II |
| 73 | Gunung Maras (Jalur Berbura) | Taman Nasional Gunung Maras | Grade II |
| 74 | Gunung Lembah Gedong (7 Summits Sembalun) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade II |
| 75 | Gunung Kondo (7 Summits Sembalun) | Taman Nasional Gunung Rinjani | Grade II |
| 76 | Gunung Tandikat (Jalur Singgalang Ganting – Puncak) | Taman Wisata Alam Singgalang Tandikat | Grade II |
| 77 | Gunung Ambang, Jalur Bongkudai | Taman Wisata Alam Gunung Ambang | Grade II |
| 78 | Danau Slank – Lembah Ramma (Jalur Lingkungan Panaikang) | Taman Wisata Alam Malino | Grade I |
| 79 | Lembah Ramma (Jalur Lembanna) | Taman Wisata Alam Malino | Grade I |
| 80 | Gunung Permisan / Bukit Nenek (Jalur Desa Gudang) | Taman Wisata Alam Gunung Permisan | Grade I |
| 81 | Gunung Bromo (Jalur Pura – Puncak) | Taman Nasional Bromo Tengger Semeru | Grade I |
Berdasarkan Tabel 4 hasil grading jalur pendakian gunung di kawasan TN dan TWA, jalur pendakian yang dinilai tersebar di dalam semua kelas Grade I hingga Grade V, dengan sekitar 40% didominasi oleh Grade III. Pola ini mengindikasikan kurva distribusi yang condong ke tingkat menengah-sulit, dengan relatif sedikit jalur yang benar-benar ekstrem maupun yang sangat mudah. Daftar gunung di atas bisa saja berkembang seiring dengan adanya penambahan data baru dan adanya TN/TWA baru.
Grade yang tinggi umumnya dihasilkan oleh kombinasi risiko medan berat yang dipadukan dengan akses sulit dan kondisi cuaca yang dinamis. Sebaliknya, jalur pendakian dengan grade rendah menunjukkan risiko yang rendah, dengan kontribusi skor yang relatif rendah di semua dimensi. Sehingga, diperlukannya penilaian multidimensi untuk menangkap gambaran risiko yang akurat.
Terdapat 3 jalur pendakian yang memiliki Grade V (Sangat berat/ekstrem), yaitu Jalur Blangkejeren Gunung Leuser, Jalur Lembah Kunung Gunung Carstenz dan Jalur Habema Gunung Trikora. Terdapat 16 jalur pendakian gunung Grade IV, 32 jalur gunung Grade III, 26 jalur pendakian gunung Grade II, dan 4 jalur pendakian gunung Grade I.
Informasi di atas disusun/hak cipta oleh Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Kehutanan Republik Indonesia.