Temukan berbagai destinasi pendakian menarik di wilayah paling utara Pulau Kalimantan melalui panduan lengkap jalur pendakian gunung di Kalimantan Utara. Artikel ini membahas informasi penting seputar gunung-gunung yang dapat didaki, mulai dari jalur pendakian, tingkat kesulitan, estimasi waktu perjalanan, hingga keindahan alam yang dapat dinikmati sepanjang rute. Dilengkapi dengan tips persiapan dan panduan pendakian untuk membantu perjalanan menjadi lebih aman, nyaman, dan berkesan.
Gunung Harun merupakan salah satu gunung di wilayah pedalaman Kalimantan Utara yang dikenal dengan hutan hujan tropisnya yang masih sangat alami. Gunung ini berada di kawasan Kabupaten Malinau, daerah yang terkenal memiliki bentang alam liar, sungai besar, dan biodiversitas tinggi khas Pulau Kalimantan.
Kabupaten Malinau sendiri bukanlah nama yang asing di kalangan pecinta alam — kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tutupan hutan primer terluas yang tersisa di Indonesia. Dan di jantung kawasan yang luar biasa inilah Gunung Harun berdiri, menawarkan pengalaman yang jauh melampaui sekadar aktivitas mendaki.
Gunung Harun menawarkan pengalaman trekking yang berbeda dibanding gunung vulkanik di Pulau Jawa atau Sumatra. Pendaki akan melewati jalur hutan lebat, sungai kecil, area berlumpur, serta perbukitan hijau yang membentuk panorama khas pedalaman Borneo. Di sini, tidak ada puncak kawah yang dramatis atau lautan awan yang terbentang luas — yang ada adalah kesunyian hutan purba yang tebal, suara satwa yang memenuhi udara, dan sensasi berjalan di tempat yang belum banyak manusia modern menginjakkan kakinya.
Nama “Harun” dipercaya berasal dari penamaan lokal masyarakat pedalaman yang telah lama mengenal kawasan pegunungan ini. Lebih dari sekadar identitas geografis, Gunung Harun sejak dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat adat sekitar, terutama sebagai sumber air, kawasan berburu, dan wilayah hutan tradisional.
Beberapa area tertentu juga dianggap memiliki nilai budaya dan spiritual. Kedekatan masyarakat Dayak pedalaman dengan kawasan ini telah menjadi penjaga alami yang paling efektif — karena akses yang cukup sulit, kawasan Gunung Harun tetap terjaga dari aktivitas wisata massal, menjadikannya salah satu pegunungan di Kalimantan Utara yang masih menyimpan keaslian ekosistemnya secara utuh.
Jalur menuju Gunung Harun didominasi trekking hutan tropis dengan karakteristik hutan lebat, trek berlumpur, sungai kecil, tanjakan panjang, serta kabut dan kelembapan yang tinggi. Perjalanan terbagi menjadi tiga segmen utama: Basecamp ke Camp 1 memerlukan 5–7 jam, dilanjutkan 4–6 jam ke Camp 2, dan 3–5 jam terakhir menuju puncak, dengan total waktu pendakian sekitar 3–5 hari.
Akses menuju titik awal pendakian pun sudah merupakan petualangan tersendiri. Dari Tanjung Selor dibutuhkan 8–12 jam, dari Tarakan 10–14 jam, dan dari Malinau Kota 4–7 jam, dengan moda transportasi berupa mobil off-road, speedboat sungai, motor trail, dan kendaraan desa. Sebagian akses menuju basecamp melewati jalan tanah dan jalur sungai. Kombinasi perjalanan darat dan sungai menembus pedalaman Kalimantan Utara yang masih sunyi ini adalah pengantar yang sempurna untuk ekspedisi yang sesungguhnya menanti di depan.
Salah satu keistimewaan terbesar Gunung Harun adalah kekayaan hayati yang menjadi teman setia sepanjang perjalanan. Ekosistem gunung ini dihuni flora khas seperti pohon ulin, meranti, rotan, kantong semar, dan lumut tropis, serta fauna seperti burung enggang, owa Kalimantan, beruang madu, primata hutan, dan reptil tropis yang menjadikan kawasan ini sebagai salah satu habitat paling penting untuk berbagai satwa liar Borneo yang kini semakin terancam keberadaannya.
Selengkapnya di:
Jalur Pendakian Gunung Harun
Gunung Apad Runan merupakan salah satu gunung yang berada di wilayah pedalaman Kalimantan Utara, tepatnya di perbatasan antara Malaysia (Sarawak) dan Indonesia, kawasan yang masih didominasi oleh hutan hujan tropis khas Pulau Borneo. Meski belum sepopuler Gunung Murud atau Gunung Kinabalu yang berada di kawasan perbatasan, Gunung Apad Runan memiliki daya tarik tersendiri bagi pendaki dan pecinta alam yang menyukai jalur eksplorasi di kawasan yang masih alami.
Sebagai bagian dari Pegunungan Tama Abu, gunung ini memiliki ketinggian 2.110 mdpl dengan tipe non-vulkanik dan karakter hutan hujan tropis. Pendakian Gunung Apad Runan menawarkan pengalaman menjelajahi hutan tropis primer, sungai-sungai jernih, serta punggungan pegunungan yang menjadi bagian dari bentang alam pedalaman Kalimantan. Karakter pendakiannya lebih menyerupai ekspedisi hutan dibanding pendakian gunung vulkanik, sehingga membutuhkan persiapan fisik dan logistik yang matang, dengan durasi pendakian berkisar 3-6 hari dan tingkat kesulitan menengah hingga sulit.
Nama “Apad Runan” diyakini berasal dari bahasa masyarakat adat yang telah lama mendiami kawasan pedalaman Kalimantan Utara, dengan penamaan biasanya berkaitan dengan karakter geografis, cerita rakyat, atau lokasi penting yang dikenal masyarakat setempat. Dalam budaya masyarakat adat Dayak, gunung dan hutan sering dipandang sebagai bagian penting kehidupan karena menjadi sumber air, sumber pangan, dan tempat dengan nilai spiritual tertentu.
Akses menuju Gunung Apad Runan memerlukan waktu dan perencanaan yang matang karena lokasinya di pedalaman. Dari Tarakan, perjalanan dilanjutkan ke Malinau (3-6 jam), lalu ke desa akses menggunakan kendaraan darat atau transportasi sungai (4-10 jam), dan dari desa akses ke basecamp sekitar 1-3 jam, dengan total perjalanan 1-2 hari. Sebelum mendaki, pendaki disarankan melapor ke aparat desa, menghubungi pengelola kawasan, membawa identitas resmi, dan menggunakan jasa pemandu lokal.
Sebagian besar jalur menuju puncak mengikuti lintasan tradisional masyarakat lokal dengan karakteristik hutan primer, tanjakan bertahap, jalur tanah dan akar pohon, serta penyeberangan sungai kecil. Pembagian jalur terdiri dari basecamp, pos 1 (hutan dataran rendah), pos 2 (hutan primer rapat), camp area, punggungan, hingga puncak sebagai titik tertinggi kawasan, meski jumlah pos dapat berbeda tergantung jalur yang digunakan.
Tingkat kesulitan dikategorikan menengah hingga sulit dengan skor keseluruhan 4 dari 5, dipengaruhi oleh medan hutan yang rapat, jalur licin saat hujan, minim penanda jalur, dan jarak yang jauh dari fasilitas umum, sehingga pendaki pemula disarankan bergabung dengan kelompok berpengalaman.
Kawasan ini kaya akan flora seperti ulin, meranti, keruing, anggrek hutan, dan kantong semar, serta berpotensi menjadi habitat fauna seperti burung rangkong, owa Kalimantan, beruang madu, kijang, dan trenggiling. Musim Juni-September menjadi waktu terbaik karena curah hujan lebih rendah, jalur lebih kering, dan risiko banjir sungai lebih kecil, sementara musim hujan membutuhkan kewaspadaan tambahan terhadap jalur licin dan sungai yang dapat meluap.
Estimasi total biaya pendakian berkisar Rp2.000.000-Rp6.800.000 per orang, mencakup tiket pesawat ke Tarakan, transportasi lokal, logistik, dan guide lokal, dengan biaya dapat lebih murah jika dilakukan secara rombongan. Pendaki juga diharapkan menghormati aturan adat komunitas Dayak setempat dan menjaga kebersihan lingkungan selama berada di kawasan ini.
Selengkapnya di:
Jalur Pendakian Gunung Apad Runan
Gunung Latuk merupakan salah satu gunung yang berada di wilayah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tepatnya di Desa Long Bena, Kecamatan Pujungan, dekat perbatasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Daerah ini dikenal memiliki kawasan hutan hujan tropis terluas dan paling terjaga di Indonesia. Gunung ini termasuk dalam jajaran pegunungan pedalaman Borneo yang masih relatif jarang dikunjungi wisatawan, sehingga menawarkan pengalaman pendakian yang alami dan autentik.
Dengan ketinggian 2.064 mdpl, Gunung Latuk merupakan gunung non-vulkanik yang didominasi bentang alam hutan tropis, punggungan pegunungan, lembah sungai, dan kawasan konservasi kaya biodiversitas. Pendakian ke gunung ini lebih menyerupai ekspedisi alam liar yang menuntut kesiapan fisik, navigasi, dan manajemen logistik yang baik, dengan durasi 3-6 hari dan tingkat kesulitan menengah hingga sulit.
Keunikan utama gunung ini terletak pada ekosistemnya yang bertingkat secara ekstrem: di kaki gunung terdapat panorama sungai berarus deras dengan batu-batu megalitik, sementara semakin ke atas kanopi hutan raksasa berganti menjadi hamparan hutan lumut purba yang kerdil dan lembap, hingga akhirnya puncak menyajikan pemandangan samudera hijau yang menembus batas wilayah Indonesia-Malaysia.
Nama “Latuk” berasal dari kosa kata suku Dayak Kenyah atau Dayak Lundayeh yang mendiami hulu sungai pedalaman Malinau. Dalam narasi sejarah lokal, kawasan ini merupakan wilayah sakral yang menjadi pembatas wilayah jelajah berburu antar-sub suku, serta dikaitkan dengan legenda perlindungan tempat persembunyian leluhur saat pergolakan antarsuku di masa lampau.
Perjalanan menuju Gunung Latuk merupakan petualangan tersendiri yang menguras waktu dan biaya, dengan dua pilihan akses: penerbangan pesawat perintis dari Tarakan atau Malinau Kota menuju bandara pedalaman seperti Long Alango atau Apau Ping, atau jalur ketinting (perahu motor) menyusuri Sungai Malinau dan Sungai Bahau melawan arus jeram berbahaya selama berhari-hari. Sebelum mendaki, pendaki wajib melapor ke pemerintah desa, membawa identitas resmi, dan menggunakan pemandu lokal.
Tidak ada jalur pendakian resmi atau permanen di Gunung Latuk. Jalur yang digunakan merupakan kombinasi trek sungai dan lembah di kaki gunung, serta jalur rintisan (bushwhacking) di mana pendaki bersama guide harus membuka jalan sendiri menggunakan parang menembus rotan, semak berduri, dan pohon tumbang, dengan tanjakan tajam tanpa bonus landai begitu memasuki punggungan utama.
Tingkat kesulitan dikategorikan menengah hingga sulit dengan skor keseluruhan 4 dari 5, dipengaruhi jalur minim penanda, kelembapan tinggi, dan jarak jauh dari fasilitas umum. Kawasan ini merupakan salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati Kalimantan, menjadi rumah bagi kantong semar raksasa, raflesia, anggrek hitam, macan dahan Kalimantan, rangkong badak, owa-owa, dan rusa.
Musim Juni-September menjadi waktu terbaik karena jalur lebih kering dan risiko banjir sungai lebih rendah, sementara Oktober-Mei membutuhkan kewaspadaan lebih terhadap jalur berlumpur dan sungai yang dapat meluap. Risiko utama meliputi isolasi sinyal komunikasi total, cuaca ekstrem yang dapat memicu hipotermia, serta keberadaan hewan berbisa seperti ular tanah dan tawon hutan.
Estimasi total biaya pendakian berkisar Rp2.000.000-Rp6.800.000 per orang, mencakup tiket pesawat, transportasi menuju desa akses, logistik, dan guide lokal. Masyarakat Dayak lokal memiliki pantangan ketat terhadap hutan mereka, sehingga mengikuti instruksi guide lokal menjadi kunci keselamatan selama pendakian.
Selengkapnya di:
Jalur Pendakian Gunung Latuk
Gunung Sidi merupakan salah satu gunung yang berada di wilayah Kalimantan Utara, Indonesia, tepatnya di kawasan pedalaman Pulau Kalimantan yang masih didominasi oleh hutan hujan tropis. Gunung ini menawarkan pengalaman pendakian yang berbeda dibandingkan gunung-gunung vulkanik populer di Jawa dan Sumatra, dan dikenal oleh masyarakat lokal sebagai bagian dari bentang alam pegunungan yang menjadi sumber air bagi sungai-sungai sekitarnya serta habitat penting flora dan fauna endemik Borneo.
Dengan ketinggian sekitar 1.200-1.400 mdpl yang bervariasi berdasarkan titik punggungan, Gunung Sidi merupakan gunung non-vulkanik dengan karakter hutan hujan tropis. Jalur pendakian umumnya melewati kawasan hutan primer dan sekunder dengan vegetasi rapat, udara lembap, serta medan yang menuntut ketahanan fisik dan kemampuan navigasi yang baik. Pendakian ke gunung ini lebih cocok dikategorikan sebagai petualangan eksplorasi alam dibanding wisata pendakian massal, dengan durasi 2-5 hari dan tingkat kesulitan menengah hingga sulit.
Nama Gunung Sidi dipercaya berasal dari istilah lokal yang telah digunakan masyarakat adat sejak lama, kemungkinan berkaitan dengan karakteristik geografis, kisah tradisional, atau penanda wilayah penting bagi masyarakat setempat. Dalam budaya masyarakat Dayak dan komunitas pedalaman Kalimantan, gunung dan hutan dianggap sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga dan dihormati.
Mencapai titik awal pendakian memerlukan jiwa petualang dan kesabaran ekstra karena lokasinya di pedalaman Kalimantan Utara. Akses dapat dilakukan melalui penerbangan perintis dari Bandara Juwata (Tarakan) atau Bandara Tanjung Harapan (Tanjung Selor) menuju Malinau atau bandara perintis terdekat, dilanjutkan jalur sungai menggunakan long boat menerobos jeram-jeram, atau melalui jalur darat (offroad) dengan kendaraan 4×4 melalui jalan logistik perusahaan kayu yang kondisinya bergantung pada cuaca.
Sistem perizinan melibatkan hukum adat dan koordinasi wilayah setempat, di mana pendaki wajib melapor kepada Kepala Desa dan Kepala Adat di desa terakhir, membayar biaya administrasi desa, serta wajib menyewa guide dan porter lokal. Jalur menuju puncak sebagian besar mengikuti lintasan tradisional masyarakat lokal dengan karakteristik hutan primer dan sekunder, tanjakan bertahap hingga curam, dan penyeberangan anak sungai, dengan pembagian pos meliputi basecamp, pos 1-2, camp area, punggungan, hingga puncak.
Tingkat kesulitan dikategorikan menengah hingga sulit dengan skor keseluruhan 4 dari 5, dipengaruhi jalur minim penanda, medan licin saat hujan, dan jarak jauh dari fasilitas umum. Kawasan ini menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati tinggi, termasuk kantong semar, anggrek hutan endemik, pohon raksasa keluarga Dipterocarpaceae, burung enggang, owa Kalimantan, dan beruang madu.
Musim Juni-September menjadi waktu terbaik karena jalur lebih kering dan navigasi lebih mudah, sementara Oktober-Mei membutuhkan perhatian ekstra terhadap jalur berlumpur dan risiko sungai meluap. Risiko utama meliputi tersesat akibat kanopi rapat, serangan pacat hutan yang agresif, serta hipotermia dan proses evakuasi medis yang sangat lama karena lokasi terpencil tanpa sinyal seluler sama sekali.
Estimasi total biaya pendakian berkisar Rp2.000.000-Rp6.800.000 per orang, mencakup tiket pesawat, transportasi lokal, logistik, dan guide lokal. Masyarakat Dayak setempat memegang teguh adat istiadat, termasuk larangan menebang pohon keramat dan bersiul di malam hari, serta terkadang melakukan ritual kecil (panyen) memohon keselamatan sebelum pendakian dimulai.
Selengkapnya di:
Jalur Pendakian Gunung Sidi
Gunung Putih merupakan salah satu destinasi wisata alam tersembunyi yang terletak di Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Berbeda dengan gunung-gunung vulkanik di Pulau Jawa, Gunung Putih adalah sebuah gunung kapur (karst) raksasa yang menyajikan dinding-dinding tebing eksotis berwarna putih bersih terjal. Tempat ini menawarkan kombinasi petualangan hiking singkat, wisata sejarah, serta panorama bentang alam Kalimantan yang masih hijau dari ketinggian.
Dengan ketinggian sekitar 150-200 mdpl, gunung ini berupa bukit batu karst dengan durasi trekking hanya 30-45 menit, jauh lebih singkat dibanding gunung-gunung lain di Kalimantan. Daya tarik utamanya terletak pada struktur geologi yang didominasi batuan kapur putih dengan relief alami menyerupai pahatan seni raksasa. Selain pemandangan lepas ke arah Kecamatan Tanjung Palas dan Kota Tanjung Selor yang dibelah Sungai Kayan, area belakang lereng gunung ini menyimpan jaringan gua bawah tanah dan lorong-lorong karst yang menantang untuk dijelajahi.
Nama “Gunung Putih” diambil secara harfiah dari kenampakan visual tebing-tebing kapurnya yang berwarna putih mencolok di tengah rimbunnya hutan Kalimantan. Berdasarkan penuturan masyarakat lokal dan catatan sejarah kesultanan, kawasan ini dulunya merupakan tempat petilasan sekaligus area bersemadi para Sultan dari Kesultanan Bulungan terdahulu, sehingga diselimuti nilai spiritual tinggi bagi warga asli Tanjung Palas.
Akses menuju lokasi terbilang sangat mudah karena letaknya strategis di tepi jalan utama. Dari Kota Tanjung Selor, terdapat dua opsi rute: jalur darat sepenuhnya melalui Jalan Poros Bulungan-Malinau dengan waktu tempuh 15-20 menit, atau jalur sungai menyeberangi Sungai Kayan menggunakan perahu tambangan menuju Tanjung Palas, dilanjutkan kendaraan bermotor 10 menit menuju gerbang wisata. Sistem perizinannya sangat kasual, tidak memerlukan simaksi, dan masuk kawasan umumnya gratis atau hanya dikenakan tarif parkir kendaraan.
Trekking menuju puncak telah difasilitasi dengan jalur berupa ratusan anak tangga semen yang dibangun di sela-sela dinding tebing batu. Meski sudah berwujud tangga, jalurnya menanjak dengan sudut kemiringan cukup curam dan rapat, dengan beberapa titik tangga tertutup lumut dan vegetasi liar. Tingkat kesulitan dikategorikan mudah hingga moderat, tidak membutuhkan manajemen logistik berhari-hari karena durasi pendakian relatif singkat, meski permukaan tangga sangat licin terutama sehabis hujan.
Kawasan ini dikelilingi hutan sekunder khas Kalimantan yang tumbuh di atas tanah berkapur, dengan fauna meliputi kelelawar buah, burung-burung endemik Kalimantan, dan monyet ekor panjang. Musim kemarau (Mei-September) menjadi waktu terbaik untuk mendaki guna meminimalisir risiko terpeleset, dengan waktu pendakian paling direkomendasikan pagi hari pukul 06.00-08.00 WITA atau sore hari pukul 16.00 WITA untuk menikmati matahari terbenam.
Risiko utama meliputi anak tangga licin akibat kelembapan tinggi, gua vertikal dan lorong gelap yang berisiko tersesat tanpa pemandu, serta dehidrasi karena cuaca dataran rendah Bulungan yang panas dan lembap. Sebagai situs petilasan bersejarah Kesultanan Bulungan, pengunjung diwajibkan menjaga sopan santun dan dilarang merusak formasi batu karst.
Estimasi total biaya pendakian sangat ramah di kantong, berkisar Rp30.000-Rp140.000 per orang, mencakup parkir, sewa perahu opsional, jasa pemandu lokal opsional, dan logistik ringan. Area puncak yang didominasi struktur batuan karst sempit membuat wisatawan umumnya memilih datang tektok tanpa menginap.
Selengkapnya di:
Jalur Pendakian Gunung Putih
Gunung Buduk Udan adalah salah satu permata tersembunyi yang terletak di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Berada di dekat garis perbatasan internasional antara Indonesia dan Sarawak (Malaysia), gunung ini menawarkan lanskap pendakian yang sangat unik. Berbeda dengan citra Kalimantan yang identik dengan hutan dataran rendah yang panas dan lembap, gunung ini menyajikan udara sejuk yang menusuk tulang, hutan pegunungan eksotis, serta panorama lembah Krayan yang menakjubkan dari ketinggian.
Dengan ketinggian sekitar 1.500-1.600 mdpl, gunung non-vulkanik ini sering disebut juga Bukit Udan. Dalam bahasa lokal suku Dayak Lundayeh, “Buduk” berarti puncak atau bukit, sedangkan “Udan” berarti hujan, sesuai dengan keunikan utamanya yaitu intensitas kabut dan hujan rintik yang hampir selalu menyelimuti area, membentuk ekosistem mossy forest (hutan lumut) yang sangat subur. Puncak gunung ini menyajikan pemandangan lanskap sawah organik tradisional Krayan di satu sisi, dan barisan pegunungan Sarawak Malaysia di sisi lainnya. Durasi trekking berkisar 2-3 hari pulang pergi.
Gunung ini memegang peranan penting dalam mitologi suku Dayak Lundayeh, sejak dahulu menjadi penanda cuaca alami bagi masyarakat Krayan: jika puncaknya tertutup kabut hitam pekat, pertanda badai akan turun ke lembah. Hutan di lerengnya dulunya juga merupakan jalur perlintasan barter tradisional antarsuku sebelum batas negara modern ditetapkan.
Akses menuju dataran tinggi Krayan merupakan salah satu yang paling menantang di Indonesia karena wilayah ini belum terhubung sepenuhnya dengan jalan darat. Satu-satunya opsi utama adalah pesawat perintis seperti Susi Air atau Smart Aviation dari Tarakan, Malinau, atau Nunukan menuju Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan, dengan tiket yang sangat terbatas dan harus dipesan jauh-jauh hari. Dari Long Bawan, perjalanan dilanjutkan dengan ojek lokal atau kendaraan 4×4 menuju desa terdekat di kaki gunung.
Karena lokasinya berbatasan langsung dengan negara tetangga, prosedur perizinan memerlukan perhatian khusus: pendaki wajib melapor dan membawa identitas ke pos Pamtas TNI yang bertugas di wilayah Krayan, meminta izin kepada kepala adat Lembaga Adat Dayak Lundayeh, serta menggunakan jasa pemandu lokal yang sangat diwajibkan demi keamanan navigasi perbatasan.
Jalur pendakian dimulai dari batas perladangan warga dengan medan tanah liat melintasi hutan sekunder dan perkebunan kopi/padi lokal yang relatif landai, kemudian berubah menjadi hutan primer rapat dengan akar pohon besar, bebatuan licin tertutup lumut tebal, dan beberapa titik yang memerlukan teknik scrambling. Tingkat kesulitan dikategorikan moderat hingga sulit, dengan tantangan terbesar pada faktor logistik penerbangan perintis, kelembapan ekstrem, dan suhu dingin yang berisiko hipotermia.
Kawasan ini kaya akan flora seperti kantong semar endemik dataran tinggi, pakis purba, dan anggrek tanah, serta fauna seperti burung takur, rangkong, payau (rusa Kalimantan), dan kucing hutan. Musim kemarau (Februari-April) menjadi waktu terbaik berkunjung karena curah hujan relatif lebih rendah meski tetap berpotensi basah sepanjang tahun. Risiko utama meliputi hipotermia akibat suhu malam yang bisa merosot di bawah 12°C, disorientasi jalur perbatasan tanpa pemandu, dan akses evakuasi terbatas karena ketiadaan rumah sakit besar di Krayan.
Estimasi total biaya pendakian berkisar Rp1.500.000-Rp2.600.000 per orang, dengan komponen terbesar pada tiket pesawat perintis. Masyarakat Dayak Lundayeh di Krayan terkenal ramah namun memegang teguh hukum adat, dan wisatawan berkesempatan melihat kearifan lokal berupa pertanian padi organik Krayan yang terkenal.
Selengkapnya di:
Jalur Pendakian Gunung Buduk Udan