Gunung Sangeang Api adalah salah satu gunung api paling aktif dan eksotis di Kepulauan Nusa Tenggara. Terletak terpisah dari Pulau Sumbawa, gunung ini membentuk pulau gunung api tersendiri yang bernama Pulau Sangeang. Secara administratif, kawasan ini masuk dalam wilayah Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Bagi para pendaki petualang yang mencari tantangan ekstrem, Sangeang Api menawarkan lanskap pulau vulkanik murni. Gunung ini memiliki dua kerucut vulkanik aktif yang menantang: Doro Api (puncak tertinggi) dan Doro Mantoi. Mendaki Sangeang Api berarti Anda akan merasakan sensasi menembus hamparan pasir hitam vulkanik, savana kering yang eksotis, hingga berdiri di atas kawah aktif dengan panorama laut lepas Laut Flores 360 derajat.
Baca juga: Jalur Pendakian Gunung di Nusa Tenggara Barat
Berikut adalah rangkuman detail teknis mengenai Gunung Sangeang Api untuk referensi cepat para pendaki:
Ketinggian: 1.949 mdpl
Lokasi: Pulau Sangeang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
Jenis Gunung: Stratovolcano
Puncak Utama: Doro Api (1.949 mdpl) dan Doro Mantoi (1.795 mdpl)
Estimasi Pendakian: 6 – 8 jam
Karakter trek: Pantai pasir hitam, savana terbuka, kerikil, dan abu vulkanik gembur
Keunikan paling menonjol dari Gunung Sangeang Api adalah statusnya sebagai pulau gunung api mandiri (volcanic island). Seluruh area pulau ini merupakan tubuh dari gunung api itu sendiri. Pendakian dimulai harfiah dari ketinggian 0 mdpl di tepi pantai berpasir hitam legam.
Selain itu, kontras lanskapnya sangat dramatis. Di bagian bawah dan lereng, Anda akan disuguhi hamparan savana luas mirip padang Afrika dengan kawanan kerbau liar. Namun, begitu mendekati area puncak, pemandangan berubah total menjadi medan gersang sisa letusan, kepulan asap solfatara yang terus mengepul dari perut bumi, dan pemandangan pulau-pulau kecil di sekitar perairan Bima.
Nama “Sangeang” diyakini berasal dari bahasa kuno setempat yang merujuk pada “Sang Hyang” atau entitas yang dihormati/dikeramatkan, mengingat sifat gunungnya yang aktif dan berwibawa. Dalam naskah kuno Majapahit, Nagarakretagama (abad ke-14), pulau gunung api ini sudah disebut sebagai “Sangeang” atau “Gunung Api”.
Catatan sejarah letusannya sangat panjang dan intens. Letusan besar pertamanya yang tercatat terjadi pada tahun 1512. Di era modern, letusan dahsyat terjadi pada tahun 1985 yang memaksa seluruh penduduk pulau ini dievakuasi total ke daratan utama Pulau Sumbawa (Kecamatan Wera). Sejak saat itu, Pulau Sangeang tidak lagi memiliki pemukiman permanen dan hanya dihuni sementara oleh petani musiman. Letusan signifikan terakhir terjadi pada Mei 2014, menyemburkan abu vulkanik hingga mengganggu penerbangan di Australia utara.
Menuju Gunung Sangeang Api membutuhkan kombinasi transportasi darat dan laut:
Karena Sangeang Api adalah gunung api aktif yang dipantau ketat, regulasi perizinan sangat krusial:
Titik start dimulai dari area pesisir barat atau barat daya Pulau Sangeang (area perkebunan musiman/pondok singgah petani).
Tingkat kesulitan mendaki Gunung Sangeang Api dikategorikan sebagai Berat dan Menantang (Challenging to Hard). Faktor utama yang membuatnya berat bukanlah ketinggian puncaknya yang di bawah 2.000 mdpl, melainkan:
Meskipun sering dilanda erupsi, kehidupan liar di pulau gunung api ini tetap tumbuh subur secara alami.
Waktu terbaik untuk mendaki Sangeang Api adalah pada Musim Kemarau (Juni hingga September). Pada bulan-bulan ini, gelombang laut di Selat Sangeang relatif tenang sehingga penyeberangan dengan perahu nelayan jauh lebih aman. Selain itu, langit cenderung bersih, memberikan jarak pandang vertikal yang sempurna untuk menikmati pemandangan laut dari puncak. Namun, bersiaplah menghadapi cuaca yang jauh lebih menyengat pada musim ini.
Masyarakat Wera dan Bima pada umumnya menjunjung tinggi adat istiadat suku Mbojo yang bernapaskan Islam. Ada kepercayaan lokal bahwa Pulau Sangeang memiliki “kekuatan mistis” purba. Pendaki dilarang keras merusak pondok-pondok singgah milik petani di pulau, dilarang mengganggu kerbau liar, dan dilarang membuang sampah di area puncak kawah. Bersikap sopan dan menghargai nelayan lokal yang mengantar adalah kunci kelancaran ekspedisi.
Perlengkapan untuk mendaki Sangeang Api membutuhkan spesifikasi khusus medan panas dan berpasir:
Biaya pendakian Sangeang Api relatif tinggi karena faktor sewa perahu eksklusif.
Baca juga jalur pendakian gunung lainnya di Nusa Tenggara Barat:
Sama sekali tidak ada. Pulau ini gersang dan tidak memiliki aliran sungai tawar permanen. Pendaki wajib membawa seluruh pasokan air bersih dari daratan Wera, baik untuk minum, memasak, maupun ibadah.
Aman selama status vulkanisnya berada pada Level I (Normal) berdasarkan rilis resmi PVMBG/Pos PGA setempat. Selalu patuhi batas aman rekomendasi dan jangan turun ke dalam lubang kawah aktif.
Sinyal seluler sangat minim atau bahkan hilang (blank spot) begitu Anda masuk ke dalam jalur pendakian atau lereng tersembunyi gunung. Sangat disarankan membawa alat komunikasi darurat atau memberi tahu jadwal kepulangan pasti kepada pihak keluarga dan nelayan penjemput.